Perhitungan Anchor Bolt dan Dynabolt

Untuk keperluan sambungan praktis antara 2 struktur banyak sekali menggunakan anchor atau dynabolt. Pada prinsipnya anchor dan dynabolt itu mempunyai fungsi yang sama dan dynabolt itu termasuk kategori anchor, untuk selanjutnya saya akan menyebutnya dengan Anchor saja. Fungsinya sebagai alat koneksi dua bagian, namun sistem atau cara kerjanya bisa berbeda-beda antara satu yang lainnya karena memang type anchor itu banyak sekali. Saya akan mencoba memberikan contoh sesuai dengan yang pernah saya temui.

Sambungan dengan Dynabolt pada canopy

Dynabolt tangga ke dinding

Pertama Chemical Anchor.
Chemical anchor adalah anchor yang menggunakan campuran zat kimia untuk keperluan baik untuk penambah kekuatan, agar tahan kondisi seperti air atau air laut dan lain-lain. Mekanisme anchor kimia ini bisa berbeda-beda. Umumnya terdiri dari dua komponen, dimana komponen utama adalah steel anchornya dan yang kedua bahan kimia sebagai pengikatnya.

Anchor banyak dipasang pada beton, walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk dipasang di batu-bata atau di dinding. Jadi kekuatan beton juga sangat mempengaruhi terhadap kekuatan atau kapasitas dari sistem anchor yang dipasang. Metodenya ada yang pertama dibor dulu betonnya, lubangnya dibersihkan kemudian di injeksi zat kimianya kemudian baru dimasukkan steel anchornya. Ada juga yang zat kimia yang di injeksikan berupa capsul.

Kedua Anchor tanpa tambahan kimia.
Anchor ini secara umum tidak menggunakan bahan kimia, untuk kekuatan yang dihasilkan dipengaruhi oleh kekuatan media tanam (baik beton atau batu-bata) serta kekuatan spesifikasi besi anchor itu sendiri (berupa titik leleh dari material anchor). Model dan sistem kerjanya berbeda-beda biasanya tergantung pada material yang digunakan untuk menanam.

Sistem kerja yang paling umum yang sering kita jumpai adalah sistem kembang. Dimana dalam prosesnya beton tempat media tanam dibor terlebih dahulu sesuai dengan spesifikasi yang diperlukan (jika anda membeli anchor anda akan mendapat katalog mulai dari kekuatan, ukuran yang diperlukan, panjang besi Angkur, panjang dan besar lubang bor yang diperlukan dan persyaratan-persyaratan yang lain-lain), bersihakan lobang yang dibor dan masukkan anchor, anchor yang dimasukkan ke dalam lubang akan semakin kuat jika ditarik karena menggunakan sistem kembang didalamnya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat contoh mekanisme kerjanya seperti gambar dibawah ini :

Anchor sebelum ditarik

Anchor setelah ditarik ekornya mengembang

 

Dan yang ketiga adalah anchor klasik.
Yaitu anchor yang ditanam terlebih dahulu. Anchor dipasang terlebih dahulu kedalam berbarengang dengan pengecoran struktur. Bedanya adalah tidak perlu dilakukan pengeboran disini sebab anchor dimasukkan kedalam struktur saat pengecoran struktur dilakukan. Beberapa anchor jenis ini yang tersedia dipasaran .
Gamabr dan spesifikasi anchor garuda steel.

Perhitungan anchor.
Secara garis besar anchor dibedakan menjadi dua yaitu angkur yang dipasang belakangan dan angkur yang dipasang bebarengan dengan pengecoran struktur. Saat membeli anchor anda akan mendapatkan spesifikasi material Angkor tersebut, banyak merek seperti hilty, ramset, fischer merekan mempunyai tipe, model, perhitungan dan spesifikasi penggunaan dynabolt yang berbeda-beda. Sebaiknya kita gunakan buku manual bawaan masing-masing produk. Namun apabila kita ingin menghitung kekuatan dengan cara praktis salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan pendekatan ACI 318 appendix 5 tentang anchor. Untuk memudahkan perhitungan praktis anchor, ada program dengan exel untuk membantu perhitungan tersebut. Anda bisa mendownloadnya disini.

Jangkar dan Tambat (Anchor and Mooring)

Jangkar (Anchor) merupakan salah satu dari komponen kapal yang berguna untuk membatasi olah gerak kapal pada waktu labuh di perlabuhan agar kapal tetap dalam keadaannya meskipun mendapatkan tekanan oleh arus kapal, angin, gelombang dan untuk membantu dalam penambatan kapal pada saat diperlukan.

Perencanaan penjangkaran harus dilengkapi guna :

1.      Dengan cepat menurunkan jangkar haluan, mengeluarkan kabel rantai sesuai kedalaman yang dibutuhkan dan menghentikan jalannya secara halus.

2.      Menarik rantai jangkar berikut jangkarnya.

3.      Mengikat rantai jangkar dengan pasti pada badan kapal saat membuang sauh dan dalam pelayarannya tak ada rantai yang diberikan bergerak yang dapat membahayakan.

4.      Dengan segera (siap) dapat menyimpan jangkar.

5.      Dengan cepat menjatuhkan jangkar dan rantainya dari badan kapal dan membuang keluar kapal.

6.      Dengan cepat mengeluarkan jangkar dari rantainya.

Ditinjau dari kegunaa diatas maka jangkar beserta perlengkapannya harus memenuhi persyaratan antara lain:

·        Jangkar-jangkar di atas kapal harus memenuhi persyaratan mengenai berat, jumlah dan kekuatannya.

·        Panjang, berat dan kekuatan rantai jangkar harus cukup.

·        Rantai jangkar harus diikat dengan baik dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat dilepaskan dari sisi luar bak rantainya.

·        Peralatan jangkar termasuk bentuknya, penempatannya, dan kekuatannya harus sedemikian rupa hingga jangkar itu dengan cepat dan mudah dilayani.

·        Harus ada jaminan, agar pada waktu mengeluarkan rantai, dapat menahan tegangan-tegangan dan sentakan-sentakan yang timbul.

Berdasarkan ketentuan persyaratan di atas maka setiap perlengkapan jangkar mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

a)      Letak, jumlah dan berat kapal

b)      Ukuran dan panjang  rantai jangkar

c)      Mekanismenya

Kapal biasanya dilengkapi dengan 3 macam tipe jangkar, yaitu :

1.      Jangkar haluan

peralatan utama yang dipakai bilamana kapal membuang sauh atau menahan kapal di dasar laut dan selalu siap terpasang pada lambung kiri dan kanan pada haluan kapal.

Selain dua buah jangkar utama, juga terdapat jangkar cadangan dimana berguna sebagai pengganti jangkar utama bilamana salah satu dari jangkar utama tersebut hilang, jangkar ini ditempatkan di muka haluan kapal agar selalu siap bilamana diperlukan.

2.      Jangkar arus

Dipergunakan untuk menahan haluan maupun buritan kapal, supaya tidak berputar terbawa arus.

3.      Jangkar cemat

Dipakai untuk mengangkat kapal bila terjadi keadaan bahaya.

Jangkar haluan mempunyai berat tiga kali dari jangkar arus dan enam kali lipat berat jangkar cemat

Gaya-gaya yang bekerja pada jangkar, antara lain:

1.      Gaya tekanan angina yang ada pada batas di atas permukaan air

Dalam hal ini super structure dan deck house perlu diperhitungkan

2.      Gaya tekanan air pada bagian bawah

3.      Gaya energi yang ditimbulkan oleh gelombang

Mesin yang dipakai untuk menarik jangkar disebut windlass dan anchor capstan. Mesin – mesin untuk menarik kepelabuhan dan untuk menarik kapal pada kerja penambatan disebut warping winch dan warping capstan.

Mesin penjangkar dan penudaan dapat dibedakan atas :

  1. Penggerak dengan tangan
  2. Penggerak dengan uap
  3. Penggerak dengan listrik
  4. Penggerak dengan hidrolik
  5. Penggerak dengan pembakaran dalam

Tuntutan pokok berikut dibutuhkan untuk permesinan penjangkaran dan perencanaan penundaan :

  1. Dapat dipercaya dan aman dalam operasinya.
  2. Mampu dihidupkan dengan halus pada beban penuh.
  3. Mampu untuk mempertahanakan / menjaga momen puntirnya sendiri kalau kecepatan, pada rantai jangkar atau tali tunda yang dibawanya, menurunkan keharga yang rendah atau jika sekalipun nol.
  4. Mampu untuk memegang jangkar yang tergantung pada beberapa keadaan dalam penambatan dalam hal kegagalan pemberian daya kepada unit penggeraknya.
  5. Mudah pengawasannya, gerakannya halus dan kemungknan sangat kecil penyetelan kecepatan dari poros bagian yang menggerakkan.
  6. Berat yang relatif kecil dan kemungkinan kecil/sedikit jumlah ruang geladak yang ditempati.
  7. Ekonomis dalam operasinya.

Gambar 19

Jangkar 1 ditarik masuk ke lubang rantai 2 dan hubungannya dengan memakai sambungan gelang (joint-shackle) 3 dengan kabel rantainya jangkar 4. Kemudian lewat melalui pemberhenti/penahan 5 yang mana diikat mati di geladak. Setelah melalui stopper, rantai berjalan melalui penarik kabel dari windlass 6 yang digerakkan oleh motor listrik. Dari penarik kabel rantai lewat melalui pipa rantai 8 dan diulur masuk ke kotak rantai 9 dimana disini diikatkan pada slip chain. Kemudian dihubungkan dengan gelang penyambung 11 ke pengeling kabel (cable link) 12 yang diikat mati pada kerangka badan kapal.

Slip hook 13 menghubungkan rantai 4 dengan pengeling kabel 10 sedemikian sehingga jangkar dan rantainya dapat dengan cepat dibuang keluar bilaman diperlukan. Dilengkapi dengan swivel 14 pada rantai ujung pertama dan terkahir guna menjaga agar jangan rantai terpuntir apabila kapal membuang sauh.

Penjangkaran dan capstan penarik yang digerakkan dengan uap dan tangan ditunjukkan dalam gambar 22. Ini degerakkan oleh mesin uap duplex horizontal.

Uap masuk diisikan melalui lemari katup 39 dari katup penghidup 38 dengan melalui katup uap 46 sedangkan uap bekas dikeluarkan melalui hubungan 41. Tutup 25 dan 26 menumpu ujung – ujung silinder yang dilengkapi dengan isolasi 24 untuk mengurangi kehilangan panas.

Pada saatnya bekerja, perputaran cacinmg 6 ditransmisikan ke roda cacing 5 yang dipasang terkunci pada poros capstan 2. Perputaran poros capstan memutar dalam bantalan bronze 12 dan 13 yang ditempatkan pada alas 1 dan rumah 16 dari gigi –gigi cacing, ditransmisikan dengan melalui kopling jepit 10 ke tong capstan 3. Cakar kopling 10 dikait atau dilepas dengan jalan memutar roda tangan 9 . Gerakan ini akan menaikkan atau menurunkan tabung 42 sepanjang pengunci pada poros capstan dan diikat pada nap roda tangan.

Capstan diubah untuk penggerak dengan tangan, dilaksanakan dari batang capstan 23 dengan jalan melepaskan hubungan kopling 10. Sama seperti di atas hanya tong saja yang beroperasi bila kopling 3 dilepas, karena itu kedua –duanya antara tong dan penarik kabel bekerja bilamana kopling dikaitkan.

Prinsip pengoperasian windlass dan capstan

Sebelum menmghidupkan capstan atupun windlass, perlu diperhatikan hal – hal berikut :

1.      Periksalah apakah kerjanya mungkin terhalang oleh obyek – obyek asing.

2.      Berikan minyak pelumas pada semua tempat  – tempat pelumasan tempatkan semua minyak dan mangkok p[eluams sesuai aturan kerja dan periksa permukaan minyak pelumas transmisi – transmisi roda cacing.

3.      Buka ktup – katup penghembus dari silinder – silinder dan katup saluran uap masuk.

4.      Buka katup – katup pada saluran pipa pengisian uap masuk dari windlass atau capstan dan keluarkan uap yang habis dipakai.

5.      Pasang ban rem dan lepaskan penarik – penarik kabel dari bagian penggerak.

6.      Periksalah apakah kopling – kopling terkait dengan atau tanpa kesalahan.

7.      Periksa apakah penggerak dengan tangan terlepas sebgaimana mestinya.

8.      Buka penuh katup pembuangan uap, goncangkan katup pemanasan pendahuluan silinder – silinder windlass ata capstan mesin uap,  teruskan hingga tidak ada kondensat yang terlihat pada uap yang mengalir keluar dari katup – katup penghembus.

9.      Setelah pemanasan pendahuluan mesin yakin betul windlass atau capstan digerakkkan sendiri dengan memutar porosnya beberapa putaran masing – masing arah. Apabila tidak ada sesuatu letusan terdengar, windlass, atau capstan siap untuk bekerja.

Selama kerjanya adalah penting dilihat pengisian pelumasannya sendiri dan mendengarkan suara – suara letusan. Apabila ada beberapa suara yang terdengar tidak normal maka windlass segera dimatikan untuk menemukan kerusakan – kerusakan dan mengadakan perbaikan seperlunya tanpa menunda.

Bilamana windlass dihentikan untuk waktu yang singkat adalah perlu untuk menutup uap masuk dan kemudian katup uap keluar dan membuka katup – katup penghembus.

Apabila windlass atau capstan tidak bekerja untuk jangka waktu yang lama, akan diperlukan tambahan seperti di atas, menyingkirkan kotoran – kotoran  dari minyak – minyak, tutup katup – katup pada saluran uap masuk dan keluar , dan dicoba kerja ban rem dan koling –klopling gesek.

Bilaman windlass uap atau capstan uap dihentikan pada waktu mesin dingin, kondensat harus dengan hati – hati dikeringkan dari saluran – saluran pipa.

Widlass untuk bekerjanya dengan menggunakan tangan, maka paling tidak diperiksa setiap sebulan sekali.

Simbol Daur Ulang pada Botol dan Kemasan Plastik

Manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak pernah jauh dari kemasan plastik, baik berupa botol maupun tas. Selain itu limbah plastic tidak dapat tergradasi dengan mudah. Sangatlah wajar jika suatu saat bumi kita ini tidak mampu lagi untuk menampung limbah plastik yang hari demi hari jumlahnya semakin bertambah. Salah satu jalan keluar yang telah banyak diimplementasikan oleh sejumlah besar komunitas di dunia adalah daur ulang (recycle).

Jika diperhatikan pada permukaan dasar botol plastik, Anda akan menyadari bahwa hampir di setiap kemasan plastik tersebut terdapat sebuah simbol tiga panah yang membentuk segitiga. Terlepas dari ada atau tidaknya simbol tersebut, pada kenyataanya sebagian besar plastik dapat didaur ulang. Jadi simbol itu sebenarnya untuk apa?

Bagian yang terpenting justru bukan tiga buah panah itu tetapi justru angka kecil yang ada ditengah-tengah ketiga panah tersebut. Angka-angka tersebut lebih dikenal sebagai sistem kode identifikasi resin dan diperkenalkan pada tahun 1988 oleh The Society of the Plastics Industry, Inc. (SPI). Sistem kode resin ini mengelompokkan botol dan kemasan plastik yang biasa ditemukan pada limbah rumah tangga berdasarkan kandungan resinnya. Sistem kode ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan para penyedia jasa daur ulang dan memberikan kekonsitenan dan keseragaman sistem pada manufaktur plastik yang dapat diterapkan secara internasional.

Instansi penyedia jasa daur ulang tidak begitu saja menerima limbah plasti untuk didaur ulang. Mereka memiliki standar yang bervariasi. Sebagai contoh, sebuah instansi membutuhkan plastik-plastik tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis dan dipisahkan dari bahan-bahan yang dapat didaur ulang lainnya; instansi yang lain menerima plastik tetapi tetap terpisah dari bahan-bahan yang dapat didaur ulang lainnya; sedangkan instansi yang lainnya tidak memiliki masalah menerima plastik dalam keadaan tercampur dengan bahan-bahan lain.

Dan kita sebagai pengguna/pemakai barang plastik sepatutnya mengenal kode-kode ini,k arena ada kalanya barang plastik tersebut tidak cocok bahkan di boleh digunakan untuk hal-hal tertentu. Berikut ini adalah berbagai kode resin yang dan deskripsinya:

RESIN CODE CHARACTERISTICS AND EXAMPLES
plastic-recycling-symbols-1-th Polyethylene Terephthalate (PET, PETE) 

PET transparan, jernih, dan kuat. Biasanya dipergunakan sebagai botol minuman (air mineral, jus, soft drink, minuman olah raga) tetapi tidak untuk air hangat atau panas. Serpihan dan pelet PET yang telah dibersihkan dan didaur ulang dapat digunakan untuk membuat serat benang karpet, fiberfill, dan geotextile. Nickname: Polyester.

plastic-recycling-symbols-2-th High Density Polyethylene (HDPE)

HDPE dapat digunakan untuk membuat berbagai macam tipe botol. Botol-botol yang tidak diberi pigmen bersifat tembus cahaya, kaku, dan cocok untuk mengemas produk yang memiliki umur pendek seperti susu. Karena HDPE memiliki ketahan kimiawi yang bagus, plastik tipe ini dapat digunakan untuk mengemas deterjen dan bleach. Hasil daur ulangnya dapat digunakan sebagai kemasan produk non-pangan seperti shampo, kondisioner, pipa, ember, dll.

plastic-recycling-symbols-3-th Polyvinyl Chloride (PVC) 

Memiliki karakter fisik yang stabil dan tahan terhadap bahan kimia, pengaruh cuaca, aliran, dan sifat elektrik. Bahan ini paling sulit untuk didaur ulang dan biasa digunakan untuk pipa dan kontruksi bangunan.

plastic-recycling-symbols-4-th Low Density Polyethylene (LDPE) 

Biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek (madu, mustard). Barang-barang dengan kode ini dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan kode inibisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.

plastic-recycling-symbols-5-th Polypropylene (PP) 

PP memiliki daya tahan yang baik terhadap bahan kimia, kuat, dan meiliki titik leleh yang tinggi sehingga cocok untuk produk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum, tempat obat dan botol minum untuk bayi. Biasanya didaur ulang menjadi casing baterai, sapu, sikat, dll.

plastic-recycling-symbols-6-th Polystyrene (PS) 

PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, tempat CD, karton tempat telor, dll. Pemakaian bahan ini sangat dihindari untuk mengemas makanan karena bahan styrine dapat masuk ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf manusia. Bahan ini dibanyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara cina.

plastic-recycling-symbols-7-th Other 

Plastik yang menggunakan kode ini terbuat dari resin yang tidak termasuk enam golongan yang lainnya, atau terbuat dari lebih dari satu jenis resin dan digunakan dalam kombinasi multi-layer.

Sumber:
http://www.thedailygreen.com/green-homes/latest/recycling-symbols-plastics-460321
http://www.americanchemistry.com/s_plastics/bin.asp?CID=1102&DID=4645&DOC=FILE.PDF

Hot Dip Galvanizing

HOT DIP GALVANIZING
Proses pelapisan galvanizing dapat ditemukan hampir di setiap aplikasi dan industri penting dimana bahan besi atau baja. antara lain, misalnya pada industri peralatan listrik dan air, pemrosesan kimia, bahan baku kertas, otomotif, dan trasportasi, pada awalnya kegunaan galvanizing yang utama adalah untuk mengontrol karat pada besi atau baja. Yang mana saat ini tetap terus digunakan. Lebih dari 150 tahun, Hot Dip Galvanizing telah terbukti secara komersial sebagai metode perlindungan besi atau baja terhadap karat dalam banyak aplikasi di seluruh dunia.
KEUNTUNGAN HOT DIP GALVANIZING

  1. Melindungi besi atau baja terhadap karat dalam jangka waktu yang lama.
  2. Tidak memerlukan biaya pemeliharaan.
  3. Tidak memerlukan pengecatan.
  4. Melindungi permukaan besi atau baja terhadap goresan.
  5. Proses cepat, praktis dan ekonomis.

PRINSIP GALVANIZING
Hot Dip Galvanizing harus melalui proses-proses tersebut dibawah :

  • DEGREASING : Untuk menghilangkan minyak atau material organik
  • WATER RINSING : Untuk menghilangkan cairan kimia dari degreasing.
  • ACID PICKLING : Untuk menghilangkan karat dan kerak baja
  • PREFLUXING : Untuk menghindari oksidasi permukaan sebelum pencelupan.
  • OVEN : Pengeringan permukaan sebelum dimasukkan ke dalam bak seng (Zn).
  • GALVANIZING : Pencelupan kedalam cairan seng (Zn) panas pada temperature 4450C – 4550C
  • QUENCHING : Pendinginan sebagai proses akhir pada permukaan seng (Zn).

GALVANIZING

  • Semua besi atau baja yang akan di galvanis harus ditangani dengan khusus agar tidak terjadi kerusakan secara mekanik dan juga untuk meminimalkan resiko distorsi.
  • Bentuk atau rancangan besi atau baja yang kemungkinan akan menimbulkan masalah pada proses galvanis harus diinformasikan terlebih dahulu.
  • Parameter galvanis seperti temperature, waktu pencelupan, dan pengeluaran dari bak galvanis harus disesuaikan dengan jenis besi atau baja tersebut.
  • Kandungan komposisi seng (Zn) pada bak galvanis tidak boleh kurang dari 98% Zn.

 

Analisa Proses Galvanisasi”

1 TUJUAN

Menguraikan pemantauan dan pengoperasian bak-bak pre-treatment dan bak galvanis untuk menjamin proses galvanis yang aman.

 

2 ISTILAH-ISTILAH

Pre –Treatment : terdiri dari bak-bak untuk membersihkan sisa-sisa minyak, pembilasan, bak pengasaman dan bak perendaman fluks guna menghasilkan suatu permukaan yang bersih pada material yang akan digalvanis

Bak Galvanis : adalah bak leburan zinc dengan tambahan elemen-elemen paduan logam (timah hitam, timah putih, aluminium, besi, tembaga, nikel, mangan kadmium, dll.)

Degresing : adalah larutan asam atau basa dengan basis air untuk membersihkan sisa-sisa minyak dan gemuk dari permukaan material

Bak Pengasaman (Pickling) : adalah larutan dengan basis air yang mengandung sampai dengan kira-kira 15 % HCl, unsur-unsur Fe dan Zn untuk menghilangkan oksida besi (karat) atau lapisan-lapisan zinc dari permukaan material yang akan digalvanis untuk mendapatkan permukaan yang bersih

Bak Fluks: adalah larutan dengan basis air antara lain dengan garam Ammonium dan garam Zinc Chloride untuk menghindari terjadinya lapisan karat dan terjadinya pengaktifan permukaan material yang akan digalvanis pada saat dicelupkan kedalam bak galvanis.

3 PROSEDUR

Pada prinsipnya berlaku untuk bak-bak Pengasaman :

Pengasaman yang digabung antara penghilangan karat dan penghilangan zinc (regalvanis) harus dihindari dikarenakan alasan ekonomis dan ekologis, maka harus dijalankan pengelolaan pengasaman secara terpisah

4.1 Pengambilan Sampel untuk Keperluan Analisa

  • Pengambilan sample sebaiknya dilakukan pada saat bak tidak digunakan dan/atau tidak didiamkan terlalu lama (paling baik di saat istirahat atau pada akhir jam kerja) untuk menghindari terjadinya pembentukan lapisan, pemisahan cairan atau pengendapan

  • 4.2 Bak Pre-Treatment

  • Interval uji : minimal 2 kali dalam sebulan

  • Tempat pengujian : laboratorium internal

  • Tindakan-tindakan yang akan diambil:

    pembuangan

    pemasukan yang baru

    penukaran bak – bak pre treatment

  • Medium yang dipergunakan : larutan bak – bak pre treatment

4.2.1 Perhitungan Kadar HCl (asam)

  1. Ambil 1 ml sampel HCl dimasukkan ke dalam tabung Erlenmeyer
  2. Campur dengan 100 ml Air Bersih (H2O) , 3 – 4 tetes metil merah
  3. Titrasikan dengan 0,1 N NaOH (Natrium Hidroksida)
  4. Amati perubahan warna yang terjadi

Warna bahan titrasi yang terlihat MERAH ORANGE (KUNING)

5. Perhitungan

[ g/l ] HCl = Kebutuhan [ ml ] NaOH x 3,65 (1)
4.2.2. Perhitungan Kadar Besi (Fe)

  1. Ambil 1 ml sampel HCl dimasukkan ke dalam tabung Erlenmeyer
  2. Campur dengan 100 ml Air Bersih (H2O) , 1 ml Sulfuric Acid (H2SO4)
  3. Titrasikan dengan 0,1 N KMnO4 (Kalium Permanganate)
  4. Amati perubahan warna yang terjadi

Warna bahan titrasi yang terlihat TAK BERWARNA MERAH MUDA

5. Perhitungan

[ g/l ] HCl = Kebutuhan [ ml ] KMnO4 x 5,58 (2)

4.2.3 Perhitungan Kadar Zinc (Zn)

  1. Ambil 1 ml sampel HCl dimasukkan ke dalam beaker glass
  2. Campur dengan 30 ml Air Bersih (H2O)
  3. Panaskan sampel
  4. Campur sampel dengan

kalau Asam Zn : 5 ml H2O2 : Warna Kuning Kehijau-hijauan

  • HATI – HATI : Biarkan cairan H2O2 dalam gelas piala jatuh kebawah melalui bibir beaker glass.

5. Tambahkan 10 ml Amoniak (NH4OH)

HATI – HATI : Biarkan Amoniak dalam gelas piala jatuh kebawah

6. Panaskan hingga mendidih dan tercampur dengan baik.

  1. Angkat beaker glass dari pemanas setelah mendidih.
  2. Saring larutan yang tercampur ke dalam tabung Erlenmeyer.
  3. Masukkan tablet Puffer (Merck) ke dalam tabung Erlenmeyer. Tablet harus terurai sebelum dilakukan titrasi.
  4. Perubahan warna yang terjadi LILA (UNGU MUDA)
  5. Titrasikan dengan

kalau Asam Zn : 0,1 N Larutan EDTA

Warna bahan titrasi yang terlihat LILA (UNGU MUDA) / HIJAU

12. Perhitungan hasil Kadar Zinc dalam g/l

Asam Zn : [g/l] Zn = Kebutuhan [ ml ] Larutan EDTA x 6.54 (3)

4.2.4 Perhitungan pH

Ukur pH dengan menggunakan indikator pH. Perubahan warna yang terjadi akan menunjukkan pH larutan.

4.2.5 Perhitungan Baume

Gunakan Baumemeter untuk menghitung baume larutan. Masukkan baume ke dalam bak pretreatment yang akan diukur. Angka pada baumemeter menunjukkan baume larutan.

4.2.6 Pembuatan Larutan Titrasi

Untuk titrasi asam, besi dsb digunakan larutan titrasi dengan yang konsentrasi tertentu (Normal). Pada umumnya digunakan larutan 0.1 N (Normal) atau larutan yang mencapai 1 N. Untuk percobaan ini gunakan larutan titrasi dari MERCK.

Kosongkan seluruh isi ampul kedalam labu suling yang bersih ukuran 1000 ml. Ampul tersebut dicuci dengan air bersih (gunakan pipet). Setelah itu isi labu suling dengan air bersih sampai dengan tanda ukuran yang tertera (untuk mencapai tanda ukuran yang tertera dengan tepat gunakan pipet pada mililiter terakhir). Volume yang tepat akan tercapai, jika meniskus cairan berada pada ketinggian ukuran yang tertera dalam tabung (berlaku juga pada saat membaca tabung Buret dan Pipet).

Setelah pengisian tabung (labu suling) tutup dengan tutupnya dan kocok dengan baik (kira-kira 20 kali). Setelah itu akan segera terlihat perubahan warna cairan tersebut. Tabung ini harus tertutup dengan baik.

PERHATIAN : Larutan titrasi yang dibuat dengan cara diatas tidak boleh terkena tetes cairan apapun setelah ukuran yang tertera pada labu suling tercapai (tutup harus kering, larutan yang sudah dipakai tidak dapat digunakan kembali).

Volume tergantung dari temperatur. Temperatur labu suling ditetapkan 20o C. Perbedaan temperatur +/- 5o C masih dapat diterima.

  • Tabung kosong yang tidak digunakan setelah percobaan selesai harus segera dibersihkan.Botol penyimpanan sebelumnya dibersihkan dahulu. Untuk memastikan sebaiknya 2 kali dicuci dengan larutan yang akan dicampurkan.

Kaliumpermanganat (KmnO4) disimpan dalam botol berwarna coklat dan dalam rak penyimpanan. Simpan botol penyimpanan, tabung, alat-alat dan larutan ditempat sejuk dan jauhkan terkena sinar matahari langsung.

4.3 Bak Galvanis

  • Interval uji: paling sedikit satu kali dalam sebulan

  • Tempat pengujian: laboratorium eksternal

  • Kriteria pengujian:

kadar Zn : minimal 98% sesuai dengan standar

kadar Al : min 0,002 – max 0,006%

<>

> 0,006% kegagalan dalam proses galvanis

0,003 – 0,005% prosentase Al yang optimal

  • Tindakan-tindakan yang akan diambil:
  • penambahan campuran logam seng
  • penghentian penambahan campuran logam

  •  

Medium yang dipergunakan dan tanda-tandanya : larutan bak Zinc

Source

Expansion Joint

Instalasi perpipaan untuk penyaluran fluida meliputi beberapa peralatan seperti tangki tempat penampungan, pompa, perpipaan, alat penyambung(fitting), Katup-katup, flens, komponen dan perlengkapan lain serta peralatan instrumentasinya yang memerlukan pengetahuan khusus dalam perencanaan dan pemasangannya.
Getaran yang diakibatkan oleh pompa akan mengakibatkan getaran yang berlebihan yang akan merambat melalui pipa – pipa apalagi dengan menggunakan pompa dengan kapasitas yang besar untuk instalasi perpipaan maka akan terjadi getaran yang berlebih.
Kerugian – kerugian yang ditimbulkan oleh pompa yang bergetar antara lain :
a.       Terjadinya getaran yang berlebih yang akan merusak pipa
b.      Merubah kontruksi pada instalasi perpipaan
c.       Menurunkian debit aliran fluida yang dipompakan
Pencegahan atau penurunan getaran pada suatu instalasi perpipaan dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu Expansion Joint . Maka dari itu,disini kita akan membahas tentang Expansion Joint yang merupakan salah satu peralatan pencegah atau penurun getaran yang berlebih pada pompa yang ada pada system perpipaan.
Tujuan Makalah
a.       Mengetahui secara pasti fungsi dari Expansion Joint
b.      Membuktikan bahwa Expansion Joint dapat mengatasi terjadinya getaran (meredam getaran)
c.       Memberikan masukan kepada pihak yang berkepentingan
Expansion Joint
Expansion Joint merupakan salah satu dari beberapa jenis sambungan yang sangat sering dipakai dan memegang peran penting pada suatu system perpipaan. Expansion Joint adalah salah satu jenis sambungan yang dipakai untuk meredam getaran yang ditimbulkan oleh pompa.
Fungsi
Pencegah terjadinya getaran dapat dilakukan dengan memasang peralatan peredam getaran. Beberapa peralatan keamanan pipa tidak dapat diberikan getaran yang berlebihan , oleh karena penggunaannya atau konstruksinya. Dalam keadaan demikian maka alat peredam getaran perlu dipasang. Dan disinilah Expansion Joint perlu dipasang
Bahan Expansion Joint
Suatu hal yang sangat penting dalam pemakaian Expansion Joint adalah pemilihan material yang sesuai dengan perencanaan.
Bahan atau material yang dipakai untuk pembuatan Expansion Joint adalah:
1.      Besi (Iron), macam – macamnya adalah mulai dari besi cor (cast Iron) yang biasa digunakan untuk Expansion Joint  kecil sampai kepada campuran logam metal dengan kekuatan tinggi (High Straight metal alloy cast) yang digunakan untuk katub besar. Cast Iron tidak boleh digunakan untuk temperature lebih tinggi dari 4500 F
2.      Baja (Steel), material ini dipakai untuk Expansion Joint yang memerlukan tekanan dan temperature tinggi
3.      Stainless Steel, material ini dipakai untuk Expansion Joint yang memerlukan temperature rendah atau aliran yang korosif
4.      Kuningan (Brass), Expansion dengan bahan ini digunakan untuk temperature dibawah 4500 F dan tekanannya kurang dari 250 psi
5.      perunggu (Bronze), apabila temperaturnya lebih besar dari 5500 F, maka digunakan material ini dan biasanya mempunyai diameter minimum 3 inchi dan tekanan dapat lebih besar dari 330 psi
6.      Fiber digunakan untuk expansion joint tetapi untuk arsitektur bangunan dan bukan untuk perpipaan
7.      Karet (Rubber), digunakan sebagai sambungan dengan elastisitas meredam getaran yang sangat besar dan untuk tekanan yang rendah
Macam-macam Expansion Joint
  1. Single Expansion Joint
  2. Toroidal Expansion Joint
  3. Universal Expansion Joint
  4. Hinged Expansion Joint
  5. Externally Pressurized Expansion Joint
  6. Clamshell Bellows
  7. Gim -bal Expansion Joint
  8. In-line Pressure Balanced Expansion Joint
  9. Elbow Pressure Balanced Expansion Joint
  10. Refractory Lined Expansion Joint
  11. Thick Wall Metallic Expansion Joint
  12. Rectangular Expansion Joint
  13. Slip Type Expansion Joint
  14. Fabric Expansion Joint
  15. Rubber Expansion Joint
  16. Stock Bellows

Mekanisme Kerja
Pada waktu motor penggerak pompa dinyalakan, maka tekanan keluar dan laju aliran fluida akan bertambah seiring dengan meningkatnya kecepatan putaran pompa. Efek dari putaran motor pompa apalagi dengan tenaga pompa yang besar akan menimbulkan getaran yang berlebihan yang dapat merusak konstruksi perpipaan Maka expansion joint berperan penting disini agar konstruksinya tetap utuh dan disamping itu juga agar konstruksi perpipaan tidak bocor ataupun jebol.

Pemeriksaan dan Pengujian
1.        Pengujian Hidrostatis
Pengetesan ini dengan menggunakan air dengan temperature minimum 100C, pompa yang digunakan untuk mensuplai air dan bagian atau system yang akan dites harus dilengkapi alat ukur tekanan yang berbeda agar diperoleh strain yang sama
2.        Pemeriksaan Cairan Penetrant
Pengetesan ini dilakukan saat finising yaitu denga menyemprotkan cairan penetrant pada joint – joint agar tidak terjadi korosi
3.        Partikel Magnetis
4.        Radiografi Test
Pengujian sambungan antara joint dengan pipa, dimana untuk pengujian radiografi dapat difoto pada sambungan tersebut . seandainya terdapat tidak kesempurnaan akan terlihat jelas dari hasil pengujian berupa film dari hasil tes radiografi
5.        Pengujian Ultrasonik
6.        Pengujian Pneumatik
Pengujian ini dengan menggunakan udara atau gas nitrogen yang disuplai dari kompresor. Tekanan awal  yang diberikan adalah 1,5 kg/cm2 dan dinaikkan sebesar 10% dan dipertahankan dalam jangka waktu tertentu untuk mendsapatkan tegangan (strain) yang sama pada pipa. Semua sambungan dapat diperiksa dari kebocoran dengan menggunakan cairan yang dapat berbusa. Untuk pneumatic test yang bertekanan tinggi, terutama diatas 7 kg/cm2 , perlu diambil pengamanan yang lebih teliti.
7.        Pengujian retak.
Pengujian retak dilakukan dengan menggunakan sinar X ( X Ray)
8.Pendeteksian kebocoran Helium
Pengujian ini dengan menggunakan gas helium yang disuplai dari kompresor. Tekanan awal  yang diberikan adalah 1,5 kg/cm2 dan dinaikkan sebesar 10% dan dipertahankan dalam jangka waktu tertentu untuk mendsapatkan tegangan (strain) yang sama pada pipa. Semua sambungan dapat diperiksa dari kebocoran dengan menggunakan cairan yang dapat berbusa. Untuk pneumatic test yang bertekanan tinggi, terutama diatas 5 kg/cm2 , perlu diambil pengamanan yang lebih teliti


Direktori Infrastruktur

Direktori infrastruktur ini memberikan data dan informasi infrastruktur bidang pekerjaan umum kepada masyarakat luas, seperti sektor Sumber Daya Air (SDA), Jalan dan Jembatan (Bina Marga) dan Perumahan dan Permukiman (Cipta Karya)

Sektor Sumber Daya Air

Bendungan/ Bendung/ Embung/ Situ

Bendungan/ Bendung/ Embung/ Situ

Bendungan merupakan salah satu infrastruktur

yang bertujuan untuk mendukung kesejahteraan

masyarakat di bidang pertanian.

 

Bangunan Pengaman Pantai/ Pengaman Sungai/ Pengendali Banjir/ Dermaga

Bangunan Pengaman Pantai/ Pengaman Sungai/ Pengendali Banjir/ Dermaga

Salah satu infrastruktur yang berfungsi untuk menjaga

daratan dari hempasan ombak (abrasi).

Abrasi ini dapat menyebabkan kerusakan terhadap pantai,

dimana pantai  merupakan salah satu primadona

tempat wisata, seperti yang ada di Propinsi Bali, dan lain-lain.

Jaringan Irigasi

Jaringan Irigasi

Saluran irigasi, merupakan infrastruktur yang mendistribusikan

air yang berasal dari Bendungan/ Bendung/ Embung

kepada lahan pertanian yang dimiliki oleh masyarakat.

Dengan adanya saluran irigasi ini, kebutuhan akan air

untuk sawah/ ladang para petani akan terjamin.

Sektor Jalan dan Jembatan

Jembatan

Jembatan

Merupakan infrastruktur yang penting bagi masyarakat luas,

karena jembatan berfungsi untuk menghubungi satu wilayah

denganwilayah lain yang terpisah karena adanya sungai,

lembah atau lain-lain. Dengan adanya jembatan ini

roda perekonomian masyarakat dapat bergerak dengan optimal.

Jalan

Jalan

Infrastruktur jalan sangat penting bagi masyarakat,

karena untuk membuka suatu wilayah tertentu yang terisolir.

Jalan juga berfungsi untuk prasarana pemersatu bangsa.

Sektor Perumahan dan Permukiman

Rumah Susun

Rumah Susun

Rumah susun merupakan infrastruktur pekerjaan umum

sebagai fasilitas tempat tinggal yang diperuntukan bagi

masyarakat yang kurang mampu. Diharapkan dengan adanya

rumah susun, dapat memperkecil perkembangan

perkampungan kumuh di suatu wilayah dan meningkatkan

kualitas lingkungan yang lebih sehat..

Instalasi Pengolahan Air Minum/ Hidran Umum

Instalasi Pengolahan Air Minum/ Hidran Umum

Infrastruktur pengolahan air minum merupakan salah satu

infastruktur  yang penting bagi masyarakat. Infrastruktur tersebut

berfungsi untuk menyediakan air bersih kepada masyarakat

luas untuk kehidupan sehari-hari.

Instalasi Pengolahan Air Limbah/Tinja, Saluran Drainase dan TPA Sampah

Instalasi Pengolahan Air Limbah/Tinja, Saluran Drainase dan TPA Sampah

Bangunan infrastruktur pengolahan air limbah/ tinja terasa sangat penting saat ini, dikarenakan semakin bertambahnya penduduk

dalam suatu wilayah maka potensi untuk terjadinya pencemaran

terhadap lingkungan semakin besar. Dengan infrastruktur ini,

dapat mencegah terjadinya hal tersebut.

Begitu juga dengan saluran drainase yang meningkatkan

kualitas lingkungan dalam mencegah banjir dan genangan

 

 

Daftar SNI Bidang Konstruksi Dan Bangunan

Daftar SNI Bidang Konstruksi Dan Bangunan

1 SNI 02-2406-1991 Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan Tata cara ini digunakan untuk memperoleh hasil perencanaan drainase perkotaan yang dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan teknik perencanaan
2 SNI 03-0090-1999 Spesifikasi Bronjong Kawat Standar ini menetapkan dimensi bronjong kawat dan persyaratan bahan baku, syarat mutu, pengambilan contoh, syarat lulus uji, pengemasan dan syarat penandaan bronjong kawat.
3 SNI 03-0675-1989 Spesifikasi Ukuran Kusen Pintu Kayu, Kusen Jendela Kayu, Daun Pintu Kayu Untuk Bangunan Rumah dan Gedung Spesifikasi ini bertujuan untuk mewujudkan pembuatan, pemasangan, dan pengawasan pelaksanaan yang optimal
4 SNI 03-1724-1989 Tata Cara Perencanaann Hidrologi dan Hidraulik untuk Bangunan di Sungai. Tata cara ini digunakan dalam mendesain Bangunan disungai (bangunan pemanfaatan, konservasi dan silang) agar memenuhi persyaratan persyaratan hidrologi dan hidraulik, dan bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan keandalan bangunan di sungai dan sungainya sendiri.
5 SNI 03-1725-1989 Tata Cara Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya. Tata Cara ini digunakan dalam menen-tukan beban-beban gaya-gaya untuk perhitungan tegangan-tegangan yang terjadi pada setiap bagian jembatan jalan raya. Penggunaan pedoman ini dimaksudkan untuk mencapai perenca-naan ekonomis sesuai kondisi setempat, tingkat keperluan, kemampuan pelaksanaan dan syarat teknis lainnya, sehingga proses perencanaan menjadi efektif.
6 SNI 03-1726-2002 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung. Standar ini menetapkan ketentuan, perencanaan umum struktur gedung, perencanaan struktur gedung tak beraturan, kinerja struktur gedung, pengaruh gempa pada struktur bawal, pengaruh gempa pada unsur sekunder, unsur arsitektur dan instalasi mesin listrik. Syarat-syarat perencana struktur gedung tahan gempa yang ditetapkan dalam standar ini tidak berlaku untuk bangunan sebagai berikut: 1)gedung dengan sistem struktur yang tidak umum atau yang masih memerlukan pembuktian tentang kelayakannya; 2) gedung dengan sistem isolasi landasan (hase isolation) untuk meredam pengaruhi gempa terhadap struktur atas; 3) Bangunan Teknik Sipil seperti Jembatan, bangunan air, dinding, dan dermaga pelabuhan, anjungan lepas pantai dan bangunan non gedung lainnya; 4).Rumah tinggal satu tingkat dan gedung-gedung non-teknis lainnya.
7 SNI 03-1727-1989 Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung Tata cara ini digunakan untuk memberikan beban yang diijinkan untuk rumah dan gedung, termasuk beban-beban hidup untuk atap miring, gedung parkir bertingkat dan landasan helikopter pada atap gedung tinggi dimana parameter-parameter pesawat helikopter yang dimuat praktis sudah mencakup semua jenis pesawat yang biasa dioperasikan. Termasuk juga reduksi beban hidup untuk perencanaan balok induk dan portal serta peninjauan gempa, yang pemakaiannya optional, bukan keharusan, terlebih bila reduksi tersebut membahayakan konstruksi atau unsur konstruksi yang ditinjau
8 SNI 03-1728-1989 Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung Tata cara ini digunakan untuk memberikan landasan dalam membuat peraturan-peraturan mendirikan bangunan di masing-masing daerah, dengan tujuan menyeragamkan bentuk dan isi dari peraturan-peraturan bangunan yang akan dipergunakan di seluruh kota-kota di Indonesia
9 SNI 03-1729-2002 Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja Untuk Gedung Tata cara ini digunakan untuk mengarahkan terciptanya pekerjaan perencanaan dan pelaksanaan baja yang memenuhi ketentuan minimum serta mendapatkan hasil pekerjaan struktur yang aman, nyaman dan ekonomi
10 SNI 03-1730-2002 Tata Cara Perencanaan Gedung Sekolah Menengah Umum Tata cara ini mencakup : ” perencanaan arsitektur, struktur / konstruksi dan utilitas gedung; ” Sistem pendidikan sekolah menengah umum; ” Perubahan sistem pendidikan sekolah menengah umum; ” Pembakuan gedung sekolah menengah umum.
11 SNI 03-1731-1989 Tata Cara Keamanan Bendungan. Tata cara ini digunakan dalam melaksanakan kegiatan desain, konstruksi, operasi dan pemeliharaan, serta penghapusan bendungan dengan tujuan untuk menjamin keamanan bendungan dan lingkungannya.
12 SNI 03-1732-1989 Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Analisa Metode Komponen Tata Cara ini merupakan dasar dalam menentukan tebal perkerasan lentur yang dibutuhkan untuk suatu jalan raya.
13 SNI 03-1733-2004 Tata Cara Perencanaan Kawasan Perumahan Kota. Tata cara ini bertujuan untuk menghasilkan suatu lingkungan perumahan yang fungsional sekurang-kurangnya bagi masyarakat penghuni
14 SNI 03-1734-1989 Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang Untuk Rumah dan Gedung Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa untuk rumah dan gedung yang berlaku
15 SNI 03-1735-2000 Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata cara ini digunakan dalam merencanakan bangunan dan lingkungannya khususnya dalam hal pencegahan terhadap bahaya kebakaran meliputi pengamanan dan penyelamatan terhadap jiwa, harta benda dan kelangsungan fungsi bangunan
16 SNI 03-1736-2000 Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebaka-ran pada Bangunan Rumah dan Gedung Tata cara ini digunakan untuk perencanaan struktur bangunan terhadap pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung
17 SNI 03-1737-1989 Tata Cara Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) untuk Jalan Raya Tata cara ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu permukaan atau lapis antara pada perkerasan jalan raya yang mampu memberikan sumbangan daya dukung yang terukur serta berfungsi sebagai lapisan kedap air yang dapat melindungi konstruksi di bawahnya.
18 SNI 03-1738-1989 Metode Pengujian CBR Lapangan Metode ini digunakan untuk mengetahui nilai CBR (California Bearing Ratio) langsung di tempat (in place) atau bila diperlukan dapat dilakukan dengan mengambil contoh tanah asli dengan cetakan CBR (undisturb).
19 SNI 03-1739-1989 Metode Pengujian Jalar Api Pada Permukaan Bahan Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Rumah dan Gedung. Judul direvisi menjadi :Cara Uji Jalar Api pada Permukaan Bahan Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung Metode ini digunakan untuk menentukan mutu bahan bangunan dalam kelompok sukar terbakar (semi non-combustible), menahan api (fire retardant), agak menahan api (semi fire retardant) dan mudah terbakar (easilytible) Standar ini memuat petunjuk pengujian jalar api pada permukaan bahan yang meliputi peralatan uji, ukuran dan jumlah benda uji, prosedur pengujian dan kriteria hasil uji. Pada standar ini tidak mencakup pengaturan tentang keselamatan kerja, bagi pengguna harus menetapkan tersendiri ketentuan tentang keselamatan kerja tersebut.
20 SNI 03-1740-1989 Metode Pengujian Bakar Bahan Bangunan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung Judul direvisi menjadi :Cara Uji Bakar Bahan Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung Metode ini digunakan untuk menentukan sifat bahan bangunan yang tidak terbakar dan yang dapat terbakar pada bangunan rumah dan gedung Standar ini memuat petunjuk pengujian bakar yang meliputi peralatan uji, ukuran dan jumlah benda uji, prosedur pengujian dan kriteria hasil uji Pada standar ini tidak mencakup pengaturan tentang keselamatan kerja, bagi pengguna harus menetapkan tersendiri ketentuan tentang keselamatan kerja tersebut.

SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan dibidang Sipil. .

  1. SNI DT-91-0006-2007 – Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah. (download)
  2. SNI DT-91-0007-2007 – Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pondasi. (download)
  3. SNI DT-91-0008-2007 – Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan beton. (download)
  4. SNI DT-91-0009-2007 – Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan dinding. (download)
  5. SNI DT-91-0010-2007 – Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan plesteran. (download)
  6. SNI DT-91-0011-2007 – Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan kayu. (download)
  7. SNI DT-91-0012-2007 – Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan penutup lantai dan dinding. (download)
  8. SNI DT-91-0013-2007 – Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan langit-langit. (download)
  9. SNI DT-91-0014-2007 – Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan besi dan aluminium. (download).

SNI : Gempa-Beton-Baja.

  • STANDAR Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung, SNI – 1726 – 2002 (down-load 373 kb)
  • BSN : Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung, SK SNI 03 – xxxx – 2002 , versi 16 Desember 2002 (down-load 3,535 kb)
  • TATA CARA Perencanaan Struktur BAJA untuk Bangunan GEDUNG, SNI 03 – 1729 – 2002 (down-load PDF 2,693 kb)

SNI lainnya

  • SNI 03-1735-2000 – Tentang tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan. (download)
  • SNI 15-7064-2004 – Semen Portland Komposit (download)
  • SNI 03-1725-1989 – Tata Cara Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (download)
  • RSNI T-02-2005 (SNI jembatan) [Download]
  • RSNI T-03-2005 Perencanaan stuktur baja untuk jembatan [Download]
  • RSNI T-12-2004 Perencanaan struktur beton untuk jembatan [Download]

Lainnya:

  1. SNI 03 -1729-2002 tata cara perencanaan-struktur-baja-untuk bangunan-gedung
  2. SNI 03 -2847-2002 tata-cara-perencanaan-struktur beton untuk-bangunan-gedung
  3. SNI 00 -1726-2002 Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung
  4. SNI 01 -7088 -2005 bentuk baku konst pukat tarik dasar kecil tipe 2 (dua) Seam atau panel
  5. SNI 03 -0675 -1989 spesifikasi ukuran kayu & kusen
  6. SNI 03 -1724 -1989 Tata cara perencanaan Hidrologi dan Hidrolika untk bangunan sungai
  7. SNI 03 -1724 -1989 Tata cara perencanaan Hidrologi dan Hidrolika untk bangunan sungai2
  8. SNI 03 -1730 -2002 Tata Cara Perencanaan Gedung Sekolah Menegah Umum
  9. SNI 03 -1732 -1989 Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya
  10. SNI 03 -1740 -1989 Cara uji bakar bahan bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung
  11. SNI 03 -2399 -2002 Tata cara perencanaan MCK Umum
  12. SNI 03 -3985 -2000 Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujuan sistem kebakaran
  13. SNI 07 -0954 -2005 Baja tulangan beton dalam bentuk gulungan
  14. SNI 1452-2007_Tabung Baja LPG_OK
  15. SNI 03 -1745 -2000 Pencegahan bahaya kebakaran
  16. SNI 03 -1745 -2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan slang utk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung
  17. SNI 03 -1746 -2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.
  18. SNI 03 -3985 -2000 Sistem deteksi kebakaran di bgnan
  19. SNI 03 -6481 -2000 Sistem Plumbing
  20. SNI 03 -6570 -2001 Instalasi pompa utk deteksi kebakaran di bgnan
  21. SNI 03 -6571 -2001 Sistem Pengendalian Asap Kebakaran pada Bangunan Gedung.
  22. SNI 03 -6575 -2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan

**sumber: wancik.wordpress.com, wiryanto.wordpress.com, http://www.ilustri.org