Direktori Infrastruktur

Direktori infrastruktur ini memberikan data dan informasi infrastruktur bidang pekerjaan umum kepada masyarakat luas, seperti sektor Sumber Daya Air (SDA), Jalan dan Jembatan (Bina Marga) dan Perumahan dan Permukiman (Cipta Karya)

Sektor Sumber Daya Air

Bendungan/ Bendung/ Embung/ Situ

Bendungan/ Bendung/ Embung/ Situ

Bendungan merupakan salah satu infrastruktur

yang bertujuan untuk mendukung kesejahteraan

masyarakat di bidang pertanian.

 

Bangunan Pengaman Pantai/ Pengaman Sungai/ Pengendali Banjir/ Dermaga

Bangunan Pengaman Pantai/ Pengaman Sungai/ Pengendali Banjir/ Dermaga

Salah satu infrastruktur yang berfungsi untuk menjaga

daratan dari hempasan ombak (abrasi).

Abrasi ini dapat menyebabkan kerusakan terhadap pantai,

dimana pantai  merupakan salah satu primadona

tempat wisata, seperti yang ada di Propinsi Bali, dan lain-lain.

Jaringan Irigasi

Jaringan Irigasi

Saluran irigasi, merupakan infrastruktur yang mendistribusikan

air yang berasal dari Bendungan/ Bendung/ Embung

kepada lahan pertanian yang dimiliki oleh masyarakat.

Dengan adanya saluran irigasi ini, kebutuhan akan air

untuk sawah/ ladang para petani akan terjamin.

Sektor Jalan dan Jembatan

Jembatan

Jembatan

Merupakan infrastruktur yang penting bagi masyarakat luas,

karena jembatan berfungsi untuk menghubungi satu wilayah

denganwilayah lain yang terpisah karena adanya sungai,

lembah atau lain-lain. Dengan adanya jembatan ini

roda perekonomian masyarakat dapat bergerak dengan optimal.

Jalan

Jalan

Infrastruktur jalan sangat penting bagi masyarakat,

karena untuk membuka suatu wilayah tertentu yang terisolir.

Jalan juga berfungsi untuk prasarana pemersatu bangsa.

Sektor Perumahan dan Permukiman

Rumah Susun

Rumah Susun

Rumah susun merupakan infrastruktur pekerjaan umum

sebagai fasilitas tempat tinggal yang diperuntukan bagi

masyarakat yang kurang mampu. Diharapkan dengan adanya

rumah susun, dapat memperkecil perkembangan

perkampungan kumuh di suatu wilayah dan meningkatkan

kualitas lingkungan yang lebih sehat..

Instalasi Pengolahan Air Minum/ Hidran Umum

Instalasi Pengolahan Air Minum/ Hidran Umum

Infrastruktur pengolahan air minum merupakan salah satu

infastruktur  yang penting bagi masyarakat. Infrastruktur tersebut

berfungsi untuk menyediakan air bersih kepada masyarakat

luas untuk kehidupan sehari-hari.

Instalasi Pengolahan Air Limbah/Tinja, Saluran Drainase dan TPA Sampah

Instalasi Pengolahan Air Limbah/Tinja, Saluran Drainase dan TPA Sampah

Bangunan infrastruktur pengolahan air limbah/ tinja terasa sangat penting saat ini, dikarenakan semakin bertambahnya penduduk

dalam suatu wilayah maka potensi untuk terjadinya pencemaran

terhadap lingkungan semakin besar. Dengan infrastruktur ini,

dapat mencegah terjadinya hal tersebut.

Begitu juga dengan saluran drainase yang meningkatkan

kualitas lingkungan dalam mencegah banjir dan genangan

 

 

Iklan

Klasifikasi Jalan Raya

Klasifikasi Jalan Raya.

Klasifikasi jalan atau hirarki jalan adalah pengelompokan jalan berdasarkan fungsi jalan, berdasarkan administrasi pemerintahan dan berdasarkan muatan sumbu yang menyangkut dimensi dan berat kendaraan. Penentuan klasifikasi jalan terkait dengan besarnya volume lalu lintas yang mengggunakan jalan tersebut, besarnya kapasitas jalan, keekonomian dari jalan tersebut serta pembiayaan pembangunan dan perawatan jalan.

Klasifikasi berdasarkan fungsi jalan
Jalan umum menurut fungsinya di Indonesia dikelompokkan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan. Klasifikasi fungsional seperti ini diangkat dari klasifikasi di Amerika Serikat [1] dan Canada [2] dimana diatas arteri masih ada Freeway dan Highway.

Klasifikasi jalan fungsional di Indonesia berdasarkan peraturan perundangan[3] yang berlaku adalah:

1. Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk (akses) dibatasi secara berdaya guna.
2. Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan ratarata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.
3. Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
4. Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.

Klasifikasi berdasarkan administrasi pemerintahan


Pengelompokan jalan dimaksudkan untuk mewujudkan kepastian hukum penyelenggaraan jalan sesuai dengan kewenangan Pemerintah dan pemerintah daerah. Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.

1. Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.
2. Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
3. Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk jalan yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
4. Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota.
5. Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.

Klasifikasi berdasarkan muatan sumbu

Untuk keperluan pengaturan penggunaan dan pemenuhan kebutuhan angkutan, jalan dibagi dalam beberapa kelas yang didasarkan pada kebutuhan transportasi, pemilihan moda secara tepat dengan mempertimbangkan keunggulan karakteristik masing-masing moda, perkembangan teknologi kendaraan bermotor, muatan sumbu terberat kendaraan bermotor serta konstruksi jalan. Pengelompokkan jalan[4] menurut muatan sumbu yang disebut juga kelas jalan, terdiri dari:

1. Jalan Kelas I, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan lebih besar dari 10 ton, yang saat ini masih belum digunakan di Indonesia, namun sudah mulai dikembangkan diberbagai negara maju seperti di Prancis telah mencapai muatan sumbu terberat sebesar 13 ton;
2. Jalan Kelas II, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 10 ton, jalan kelas ini merupakan jalan yang sesuai untuk angkutan peti kemas;
3. Jalan Kelas III A, yaitu jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton;
4. Jalan Kelas III B, yaitu jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton;
5. Jalan Kelas III C, yaitu jalan lokal dan jalan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 9.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.